Wokeh sudah lama tidak menyentuh blog yang fenomenal ini
haha saya andrew caezar kembali menulis untuk ngasih tau kepada kalian yang udah
punya pacar terus kenapa?
Selama menyandang status jomflo, ada sebagian orang
kerjaannya ngeluuuuh mulu, pengin punya pacar. Seolah-olah hidupnya penuh
kesialan karena jomflo. Malam Minggu sendiri, ngeluh. Makan sendirian, ngeluh.
Pergi ke mana-mana sendiri, ngeluh. Ditanya sama malaikat di liang kubur
sendiri, juga ngeluh.
Selain karena rasa iri ngeliat enaknya orang pacaran,
itu mungkin juga karena stigma. Di mana orang yang menyandang status jomflo
dianggap hina. Saking nggak mau dianggap hina, ya mati-matian deh nyari pacar. Nah,
salah satu cara yang paling banyak diterapin secara nggak sadar oleh anak muda zaman
kekinian adalah dengan melakukan teknik ‘perkuat pusat, perbanyak cabang’
hahaha itu jaman SMA banget.
Oknum jomflo ini biasanya jatuh cinta sama orang yang
nggak bisa dimiliki (entah karena dianya gak suka, udah punya pacar, atau
mantan yang nggak mau diajak balikan), tapi fokus dekat ke banyak orang dengan
tujuan dapet pacar. jomflo ini gelisah dengan kesendiriannya, nggak betah,
nggak mau dianggap hina dan nggak laku. Mindset-nya. “Gue harus punya pacar,
gimana pun caranya.” Heloow ini 2014 men dimana lo bisa ngelakuin apa saja
dengan status jomflo selooow kaya di moskow..
Oke, well, kalo udah punya pacar, terus apa? Pencapaian
yang lo idam-idamkan dan diharapkan udah terwujud tuh. Udah segitu doang?
Sekarang mari kita tanya pada diri sendiri, apa lagi
yang harus dicapai atau dilakukan setelah punya pacar?
Perlu lo tau, nggak semua hubungan pacaran itu enak dan
mudah seperti kelihatannya. Kalo kita liat dari tujuannya, pengin punya pacar
hanya untuk senang-senang? Silakan nggak ada yang ngelarang. Pengin punya pacar
untuk diajak berbagi? Carilah orangnya. Atau pengin punya pacar untuk bersama
menata masa depan? Semoga lo menemukan orang yang tepat.
Banyak orang yang pacaran pun malah mengeluhkan
hubungannya karena ada masalah yang mungkin nggak pernah diperlihatkan. Mulai
dari pacarnya yang suka ngambek dan marah-marah, yang sibuk dan nggak punya
waktu buat ketemu, yang ganjen dan suka selingkuh, dan yang paling pelik; nggak
dapet restu dari orang tua *eh
Sebetulnya, saat jomflo itu adalah waktu yang tepat
untuk kita memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, bukan buat ngeluh dan
ngerasa terzolomi. Lo yang tadinya dicengin jelek, ya rawat diri supaya cakep.
Lo yang tadinya nganggur, ya cari kerja dan uangnya ditabung. Lo yang tadinya
nggak punya apa-apa yang bisa dibanggain, ya cobalah untuk meniti pelan-pelan
hingga punya apa yang lo inginkan, terutama dalam bentuk karya dan prestasi.
Semoga kita semua sedang melakukan itu.
Contohlah babang sudah jomflo setahun
lebih hidup tetep bahagia dan selalu mensyukuri yang ada kepada tuhan karena
hidup gue asik ga ada beban nikmatin aja semua proses alam yang terjadi jangan
kebanyakan bawa perasaan kek cengek yang di jalan bonceng tiga dan perbanyak lah piknik hahaha
Semua yang lo lakuin itu nggak percuma, justru berguna
banget jadi modal lebih untuk dapetin pacar yang lebih baik. Siapa yang nggak
pengin coba punya pacar yang kece tampang handsome dan isi dompetnya...? Nggak
ada… cewe sekece apa juga kalo liat begitu mah ijo matanya *efekpakesoflents*
hahaha
Dengan begitu, apabila lo pengin punya pacar hanya
berlandaskan ambisi ‘kepengin’ dan kegelisahan ‘nggak mau jomflo’ aja, ya
hubungan lo nantinya nggak akan memberikan apa-apa selain masalah yang –siap nggak
siap– seharusnya nggak lo alamin. Pacaran yang berlandaskan dua hati yang
saling mencintailah yang sebenar-benarnya hubungan. Pacaran yang mempunyai
komitmenlah yang menjadi pondasi kebersamaan. Pacaran yang mempunyai status
yang jelaslah yang seharusnya diciptakan.
Sebab, sebuah hubungan tercipta dari dua hati yang saling
menemukan, saling mengakui, dan saling mencintai, siaelaaah hahaha