Ada yang hilang,
sekejap ketika ucapan selamat tinggal terucap. Namun itu tidak hilang
sepenuhnya, dia membekas di permukaan hati. Bukan luka, melainkan guratan nama
yang terarsir rapi di sana. Namamu.
Menyukaimu seperti
halnya berjalan di sebuah lingkaran. Aku tidak menemukan titik temu di mana aku
berhenti. Semua terus berjalan, lambat namun pasti. Hingga aku mengerti
lamat-lamat arti cinta yang berputar menyerupai bianglala yang
setia berrotasi di dalam kepala.
Tentang datang dan
pulang, tentang semua orang yang pernah ada di dalam hidupku, hanya kamu
satu-satunya yang sungguh aman dalam genggaman doa dalam kedua telapak tangan
dan ingatan. Kamu terjaga layaknya sebuah permata yang kusimpan dalam kotak
besi yang kukunci mati, tak kubiarkan satu pun orang selain Tuhan yang boleh
membuka dan melihat keindahanmu. Semua rahasia tentang kenangan kita, semua
tentang harapan-harapan yang terbias dalam kebersamaan kita.
Tentang datang dan
pulang, aku menunggumu kembali seperti kita awal kali bertemu dan ketawa bebas
dan lepas tanpa seorangpun yang menganggu kita.
Aku tidak pernah
memaksamu untuk tetap di sini, namun jika kau memang benar menyukai aku,
seharusnya kau tidak pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar